Jumat, 01 Januari 2016

Memaknai sumpah pemuda di Era Digital

Jika ditanya, apa isi sumpah pemuda?. Mungkin sebagian dari kita masih belum mengetahuinya, atau memang bahkan banyak yang tidak tahu dan acuh. Di Era yang serba digital ini, seremonial seperti hari sumpah pemuda sepertinya mulai pudar maknanya. Namun, bukan itu yang kita inginkan. Oleh sebab itu, kita wajib menilik kembali sebenarnya apa sumpah pemuda itu, mengapa diadakan sumpah pemuda, dan bagaimana memaknai sumpah pemuda di Era digital ini?.

gambar oleh : www.boyolalipos.com


Sejarah sumpah pemuda

Sejak Portugis menginjakan kakinya di bumi pertiwi tahun 1509, sejatinya sudah ada perlawanan dari rakyat Indonesia. Hanya saja, karena bangsa Indonesia belum mengenal arti penting persatuan, maka dengan mudah Portugis melumpuhkan perlawanan tersebut. Bahkan kita sempat mengenal istilah “adu domba”, ini menandakan bahwa saat itu memang belum ada persatuan diantara bangsa Indonesia.

Dibawah kependudukan Belanda, bangsa Indonesia kembali mengalami kesengsaraan. Belanda menerapkan system tanam paksa. Maka wajar jika rakyat Indonesia memberikan perlawanan. Namun lagi-lagi, karena tidak ada persatuan perlawanan ini juga dapat ditepis. Namun, sejak tahun 1901 Belanda mulai memperbolehkan pendidikan bagi orang kaya. Sejak itu pula bangsa Indonesia mulai mengenal politik. Hingga pada akhirnya dibentuklah sebuah gerakan nasional pertama, yakni Serikat Dagang Islam. Gerakan ini kemudian melahirkan gerakan nasionalis berikutnya, yakni Budi Utomo.

Perkumpulan Budi Utomo, Gambar oleh : www.republika.co,id


Meskipun pada awalnya gerakan nasionalis tersebut juga bersifat kedaerahan, tapi ia mampu membangkitkan semangat persatuan Indonesia. Singkat cerita, organisasi-organisasi tersebut akhirnya mengadakan kongres atau pertemuan.  Dan pada Kongres Pemuda I, dihasilkan dasar-dasar pemikiran bersama yakni :

  1. Kemerdekaan Indonesia merupakan Cita-cita bersama seluruh pemuda Indonesia.
  2. Seluruh organisasi kepemudaan bertujuan untuk menggalang persatuan.


Setelah Kongres Pemuda I, diadakan lagi Kongres Pemuda II yang merupakan puncak kesadaran bangsa akan persatuan. Pada tanggal 28 Oktober 1928, lahirlah inti dari Sumpah Pemuda yakni :

Kami putera dan puteri Indonesia mengaku bertumpah darah satu, tanah air Indonesia.
Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia.
Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbahasa satu, bahasa Indonesia.

Perjuangan belum berakhir

Kita masih dihadapkan dengan satu fakta bahwa perjuangan bangsa Indonesia belum lah berakhir. Jika dahulu para pahlawan berjuang dengan berkorban harta dan nyawa. Saat ini kita bertugas untuk menjaga apa yang telah diperjuangkan. Selain itu kita juga harus mengisi kemerdekaan ini dengan hal yang positif.

Mengisi kemerdekaan di Era Digital

Bertumpah darah satu, tanah air Indonesia. Indonesia adalah Negara kaya akan sumber daya alam. Secara luas, Indonesia jelas-jelas lebih luas dari Singapura atau Australia. Kekayaan alam Indonesia juga luar biasa besar. Lalu mengapa justru mereka yang lebih kaya dan lebih maju?. Jawabanya adalah karena kita lebih bangga produk luar negri ketimbang produk dalam negri. Coba kita lihat, ketika produk luar negri masuk ke Indonesia. Maka semua orang bangga memakai merk tersebut karena bergensi, padahal seandainya kita membeli produk Indonesia maka itu akan memutar roda ekonomi lebih cepat.

Ambil contoh, produk smartphone. Ketika disodori dua buah produk berharga sama, bisa dijamin merk luar negri lebih mendapat lirikan ketimbang produk dalam negri. Memang harus diakui bahwa merk luar negri memiliki standarisasi yang sangat maksimal. Padahal produk dalam negri juga tidak kalah dan jika kita belajar dari China, mereka kaya karena mereka bangga memakai produk smartphone mereka sendiri. Akibatnya, negara tirai bambu tersebut kini produknya malah laris manis di Asia dan bersaing dengan produk asal Korea.

Ponesl asal China, gambar oleh  www.situsgadget.com



Berbangsa satu, bangsa Indonesia. Indonesia adalah Negara Kepulauan yang terdiri dari berbagai suku dan budaya. Tercatat dalam sensus BPS tahun 2010, bangsa Indonesia juga kaya akan keanekaragaman suku yang mencapai 1340 suku. Sepatutnya kita bangga karena dengan etnik sebanyak itu, Indonesia mampu menjaga kerukunan. Walau pun memang, pada tahun 2015, kita cukup dikejutkan dengan fakta bahwa masyarakat Indonesia masih harus mempupuk kembali toleransi beragama. Alangkah indahnya jika peristiwa semacam itu tidak terjadi.

Kita juga sempat tergelitik oleh adanya pencampuran budaya luar dengan budaya dalam negri. Kita adalah bangsa yang berbudaya dan wajib melestarikannya.

Berbahasa satu, bahasa Indonesia. Indonesia memiliki banyak sekali bahasa daerah. Teramat banyak hingga tidak mungkin untuk seseorang menguasai semuanya. Namun untuk mempersatukan bangsa, dibutuhkan satu bahasa yakni bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia termasuk bahasa sakti, karena setelah dijajah selama lebih dari 350 tahun, bangsa Indonesia tetap berbahasa Indonesia. Mari kita lihat tetangga kita, mereka memakai bahasa penjajahnya sebagai bahasa bangsanya.

Fakta dilapangan menunjukan bangsa Indonesia rupanya lebih cinta bahasa asing ketimbang bahasanya sendiri. Andaikan kita mencontoh jepang yang tidak mau memakai bahasa inggris untuk diaplikasikan ke perangkat elektronik mereka, maka bukan tidak mungkin kita juga menjadi Negara maju seperti Jepang.

Hiragana, gambar oleh www.stata.com

China juga merupakan Negara yang menjaga bahasanya dengan memakai bahasa mandarin untuk perangkat elektronik mereka. Sedang di Indonesia, perangkat elektronik seperti komputer dan gadget lainnya kebanyakan masih menggunakan bahasa Internasional. Padahal bila bahasa di komputer menjadi bahasa Indonesia maka akan lebih mudah bagi bangsa Indonesia untuk mempelajari komputer.


Demikianlah, bila kita ingin Indonesia berjaya diera yang semakin canggih ini, maka harus dimulai dengan gerakan serentak mencintai tanah air Indonesia, menghormati dan menjaga budaya bangsa, serta memakai bahasa persatuan bahasa Indonesia.

lomba kontes blog ST3 TELKOM

0 komentar

Posting Komentar